Friday, January 20, 2017

Seandainya Puan Sudi

17 comments

Seandainya Puan Sudi


Terkadang aku lupa cara melukismu
Langit malam terlalu penuh kenangan
Berkeliaran di antara gugusan bintang
Sepadan kerling matamu kala itu

Puan,
mungkin kini gelap telah menyelimutimu
Tak ada sepijar pun, lentera menerangi ruang malam
Pengap terjebak ruang tiada berpintu

Seandainya puan sudi
Ijinkan kubawa sulut diyan usang
Sekedar penerang hati
Agar mampu kau baca rasaku

Kesunyian Yang Indah


Kesunyian yang indah
Begitu banyak tanya mendekam
Angin bercerita tentang negeri antah
Pembawa lamunan di sisi malam

Sendiriku meramu rindu
Menikmati sepi
Mengikat sunyi
Menembus batas angan
Kucipta hening pada hymne rembulan

Sebungkus ransum hati kunikmati
Tanpa keramaian,
melahap tiap rasa yang tersaji

Kesepian yang indah,
tatkala semua mampu kunikmati Dalam kesendirian

Subuh Yang Indah


Selamat pagi.
Pada lingkar usai malam
Udara diam
Tiada sepatah kata keluar dari bibirmu
Hanya gemulai tarian kabut
Perlahan luruh membelai dedaun

Aku,
setia di parjalanan waktu
Mereguk embun sebelum jatuh terserap tanah
Aroma wangi memenuhi rongga dada
Selintas bayang tanpa gincu
Menyumpat aliran darah ke jantungku
Aku terjebak hingga mentari menguasa

Kau!
Terlalu cepat menghilang



If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

17 comments:

  1. Puisinya menyentuh jiwa seakan membawa angan yang silam.
    Membawa beban yang dalam, tapi penuh dengan makna.

    ReplyDelete
    Replies
    1. membawa angan yang silam dan melayanh ya Lis..hehe

      Delete
  2. Memilih setia pada perjalanan waktu
    Walau kadang angan melampau batas
    Titik embun melepas dahaga
    Saat rindu tak jua menemukan
    Kemana harus kualamatkan
    Jejak sedikit melambat
    Tak ingin gesa mengusik
    Syahdunya syair rasa
    Karena indahnya sunyi
    Saat mampu merekam setiap lekuk senyum yang kerap hadir
    Dalam bingkai angan

    salam santun pagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan akan selalu tersimpan rapi kenanganmu di almari waktuku, hehe


      Salam santun balik dariku..

      Delete
    2. selamat pagi
      lama ku nanti
      aksara yang berbaris rapi
      mengapa tak jua kau mulai
      atau kau simpan dalam hati
      dan kau biarkan aku menanti
      seperti pagi ini

      *hehe, ayo mas terbitkan lagi jangan biarkan draft mu penuh dan sesak oleh karyamu yang mengantri

      Delete
  3. tp kayakx Maghrib lebih cepat menghilang dri subuh....
    Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kang waktunya lebih cepatan magrib.., hehe. tks

      Delete
  4. Sendu ya puisinya, banyak kata yg aku nggak tahu artinya.
    Asik banget buat kubaca sore2 mendung gini Mas Jeni ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesendu orang mengudek kopi ya mbak @Wahyu.? sih mbaknya bisa aja sih.,hehe

      itu bahasa yang ku dapat dari atmosfir mbak, haha

      Delete
  5. Emmmm... sepertinya ketiga judul puisi di atas masih berkesinambungan yah. Hehe

    Seandainya paun sudi
    Mungkin kesunyian pada subuh yang indah,akan lebih indah dengan secangkir senyum yang kau suguhkan.
    Seperti rona mega
    Bersambut oleh kehangatan sang mentari.

    Uhukk.... ngopi rumiyen, Mas... hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas @Djacka sambung menyambung jadi satu itulah Indonesiaku.. haha


      okey Mas, tks

      Delete
  6. aku suka yang bagian 1 puisi di atas. puisinya menyentuh hati memang.

    ReplyDelete
  7. menyentuh sampai ke sum2 ya mas.., hehe..,, okey tks

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. Puan itu perempuan atau bisa juga di bilang perempuanku., hehe

      Delete
  9. Oh, Seandainya Puan sudi memasukan saya ke jajaran direksi PDIP pasti saya bakal menjadi presiden hahahaha

    Mas Jen, puisimu epik tenan! Trenyuh loh aku moco puisimu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mosok sampean terenyuh Mas Gus., untunge aku ora nyediain tisu.., hehe., maaf bercanda Mas.

      Delete