Monday, December 12, 2016

Ruang Putih Dan Rindu Mengendus

8 comments
Banyak orang melakukan perjalanan dengan berbagai jenis kendaraan, antara lain berkendara dengan kata-kata.

Memang kata-kata bisa berjalan di darat, menyapa embun, berlayar di laut, atau terbang di udara.., Bahkan, kata-kata bisa menembus bumi, palung laut, palung hati dan angkasa luar.

Begitu hebatnya kendaraan satu ini.
Pengendaranya bisa disebut, penyair, cerpenis, esais, novelis, kolumnis, atau jurnalis.

Kendaraan ampuh ini memang mampu membentuk dunia apa pun dengan cara apa pun. Dengan kata-kata, penyair bisa menembus siapa pun dan apa pun, bahkan berdialog mesra dengan dunia langit.

Betapa senang berselancar dan bercanda dengan kata-kata, seperti kelompok burung migran yang mengembangkan sayap, mengendarai angin, melintas benua dan musim penuh warna. Sepasang sayap hanya mengepak sesekali. Sang penyair mengelana antar benua, dengan sedikit kata, bertinggal di semua wilayah yang diingin. Bahkan ceruk-ceruk neraka dan surga, tanpa kecuali.

Bahagialah manusia yang mampu menyiasati dan menggunakan alat ajaib (kata-kata) ini. Manusia bisa membuka rute-rute baru yang belum pernah terbayangkan. Kata-kata juga bisa menghidupkan masa lalu ke masa kini dengan penuh maaf. Demikian juga dapat menghadirkan masa depan ke masa kini dengan bijak. Atau, kata-kata dapat membuang masa kini ke masa lalu, melempar masa lalu ke masa depan, tanpa kesulitan sedikit pun. Kata-kata dapat menjungkirbalikkan waktu, bahkan ruang dan waktu sekaligus.





Rindu Mengendus


Rindu mengendus hati
Tetaplah di pelataran senja
Biar sisa mentari melukis lekukmu
Sebelum malam mengiris luka .

Tebing karang tenang tak beranjak
Kukecup kening ombak
Kau diam saat jemari menyapu angin
Dalam hitungan tiap desah .

Malam begitu rakus
Memangsa tiap rintih terbalut hasrat
Lenyap ditelan gelombang

If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

8 comments:

  1. Kata penyair yang membius sukma, akhirnya jadi rindu tak tertahankan.. hehehe

    ReplyDelete
  2. Musim hujan tiba
    memeras rindu hingga ampas
    sisa waktu di ujung senja
    masih tersisa titik kesejukan
    yang akan menuju malam
    akankah kita saling melupakan
    adakah beda kita pasrah
    dalam cengkraman rindu
    yang menari mengusik palung hati

    ReplyDelete
  3. Pada malam kuhapus sepi
    Pada malam kuingin sendiri
    Pada bintang yang gelap kuberbisik
    Aggin, desau... sepi...

    ReplyDelete
  4. Kata-kata memang sangat dasyat kawan..!
    Hanya dengan sebuah kata yang terucap orang bisa lupa, bisa senang, bisa cinta dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  5. Ciee...ciee...emang siapa yang dikangenin sih? :P

    ReplyDelete
  6. Nambah lagi,
    Pengendara untuk para pengarang kitab-kitab, MUSHONNIF

    ReplyDelete
  7. rangkaian katanya sungguh membuat klepek-klepek dan makjleb lawan jenis banget deh ih...keren ada endusan di ruangan yang di cat putihnya

    ReplyDelete